LET'S VISIT BANDA ACEH

Banda Aceh is the provincial capital of Aceh Province, formerly known as Kutaraja until 1962. On April 22nd, 2016, Banda Aceh celebrated its 814th anniversary. Today,...

DAYA TARIK WISATA JAWA TENGAH

Candi Borobudur merupakan candi Budha terbesar di dunia. Candi ini adalah salah satu masterpiece di antara tujuh keajaiban dunia. Candi Borobudur terletak di...

NGABEN: UPACARA ADAT PEMAKAMAN DI BALI

Upacara pemakaman jenazah atau kremasi umat Hindu di Bali atau dikenal dengan nama Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan...

SEJARAH RUMPUN BAHASA AUSTRONESIA

Menurut Arkeolog Harry Truman Simanjuntak, Austronesia merupakan salah satu rumpun bahasa yang terbesar di dunia. Rumpun bahasa ini meliputi...

ALBERT EINSTEIN

Albert Einstein was born in Ulm, Germany, in 1879. As a young boy, Einstein lived in...

Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2016

Ali Baba and the Forty Thieves


Ali Baba was such a poor man that he had only had one shoe for his two feet. Even the mice in his house were hungry.

One day, his wife said, " We have no food in the house. No rice. No potatoes. Go and collect leaves in the forest so that I can make a soup."

Ali was lazy man. He looked for leaves for about ten minutes and then he climbed a tree to sleep. He was afraid of wolves. When he woke up, he was surprised to see forty thieves on forty horses. They stopped in front of a big rock.

Taken from prezi.com
"Open Sesame!" shouted the leader. A door on the rock opened. The thieves carried sacks full of gold into the cave. When they had finished, the leader shouted.

"Close Sesame!" and the door closed. As soon as the thieves had disappeared Ali Baba jumped down from the tree, said, "Open Sesame" and went into the cave.

There were shelves all around the walls. The shelves were full of sacks. And the sacks were full of gold. Ali took a sack home with him.

Unfortunately, one of the thieves saw Ali's footprints on the sand. He followed them to Ali's home. He took out his knife and made a cross on the door.

"Now I shall know which house it is," he said. He rode off to get the other thieves. But Ali had seen the thief. He and his wife took brooms and swept away the footprints. Then he made crosses on every door at the street. When the forty thieves arrived they had their knives between their teeth. But they couldn't find either Ali – or the gold. And Ali and his wife lived happily ever after.


Rabu, 20 Juli 2016

Dinasti Islam di Spanyol

    Pada zaman Khalifah Al Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, telah sukses memperkenalkan islam di Spanyol, bahkan pengaruhnya telah menguasai Afrika Utara. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di masa Khalifah Abdul Malik (685-705) M yang mengangkat Hasan Ibnu Nu'man Al Gassani menjadi Gubernur di daerah itu. Sejarah panjang perjalanan islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:

  1. Periode Pertama (711-755 M)
  2. Wilayah kekuasaan islam di Spanyol
    Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam periode pertama ini, islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.

  3. Periode Kedua (755-912 M)
  4. Spanyol pada periode ini diperintah oleh seorang yang bergelar Amir (panglima atau gubernur), tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Adapun Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Ad-Dakhil, artinya yang masuk Spanyol.

  5. Periode Ketiga (912-1013 M)
  6. Periode ketiga ini berlangsung dari pemerintahan Abdurraahman II dan bergelar An-Nasr sampai munculnya raja-raja kelompok yang dikenal dengan sebutan Muluk At Tawaif. Penguasanya disebut dengan gelar khalifah yang dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abdurrahman An Nasir (951-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M). Pada periode ini, umat islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi daulat Abbasiyah di Bagdad ditandai berdirinya Universitas Cordova.

  7. Periode Keempat (1013-1086 M)
  8. Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja atau Muluk At Tawaif, yang berpusat di suatu kota, seperti Seville, Cordova, Toledo, dan yang terbesar di antaranya adalah Abbadiyah di Seville. Meskipun pada periode ini kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang.

  9. Periode Kelima (1086-1248 M)
  10. Meski islam Spanyol sudah terpecah-pecah pada periode ini, terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Pada periode ini, pengaruh dan perkembangan islam sudah menurun akibat perpecahan di kalangan raja-raja muslim, terutama penguasa sesudah Yusuf Ibn Tasyfui, pendiri Dinasti Murabithun. Tahun 1143 M, kekuasaan Dinasti Murabithun berakhir dan diganti dengan Dinasti Muwahhidin. Daerah Saragoza jatuh ke tangan non-islam, tepatnya tahun 1118 M. Dinasti Muwahhidun pun mengalami kemunduran. Seville pun jatuh pada tahun 1248 M beserta seluruh Spanyol, kecuali Granada lepas dari penguasa islam.

  11. Periode Keenam (1248-1492 M)
  12. Pengaruh dan kekuasaan islam hanya ada di daerah Granada di bawah Dinasti bani Ahmar (1432-1492 M). Dengan ambisinya, Ferdinand dan Isabella (pemimpin sebagian wilayah Spanyol) ingin menguasai Spanyol sepenuhnya dan merebut kekuasaan dari Abu Abdullah (raja terakhir bani Ahmar). Sayang sekali Abu Abdullah tak kuasa menahannya. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat islam di Spanyol yang tidak memiliki lagi pemerintahannya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu meninggalkan Spanyol atau beralih agama (selain islam) sehingga pada tahun 1609 M, bisa dikatakan tidak ada lagi umat islam di Spanyol.

    Margiono, dkk. 2007. Pendidikan Agama Islam 3: Lentera Kehidupan. Jakarta: Yudhistira.

Selasa, 16 Februari 2016

Khutbatul Wada'

Pembahasan yang dalam Khutbatul Wada' terdiri atas semua hak dan kebebasan yang mencakup individu, keluarga, masyarakat, dan semua bentuk kemanusiaan. Hak-hak tersebut disampaikan pada Khutbatul Wada' dengan sangat jelas; hak untuk hidup, hak untuk memiliki, dan hak mendapat perlindungan bagi keluarga.

     "Wahai manusia! Seperti halnya hari ini adalah hari yang mulia, bulan ini adalah bulan yang mulia dan kota ini (Makkah) adalah kota yang mulia, maka jiwa dan harta benda kalian juga mulia dan telah terlindungi dari segala bentuk ancaman."

     Pada zaman jahiliyah yang paling banyak menjadi korban adalah para wanita dan anak-anak. Pada masa itu wanita dianggap seperti sebuah barang atau alathiburan yang tidak bernilai sama sekali. Terkadang kaum musyrikin melihat dan menganggap wanita sebagai suatu aib yang harus ditutupi, kadang pula sebagai alat hiburan.

     Dengan adanya hak dan kebebasan yang dimiliki oleh wanita dalam Khutbatul Wada', tugas-tugas para wanita dan laki-laki tertata dengan sangat baik: "Wahai manusia! Saya menasihati agar kalian melindungi hak-hak para wanita dan dalam hal ini takutlah kepada Allah Ta'ala. Kalian telah menerima para wanita sebagai amanat dari Allah Ta'ala; kehormatan dan kesucian mereka akan menjadi halal bagi kalian dengan menyebutkan nama Allah (melalui akad nikah). Sebagaimana kalian memiliki hak atas isteri kalian, mereka juga mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas isteri kalian adalah mereka tidak boleh menerima atau memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah. Jika mereka memasukkan orang yang kalian tidak sukai ke dalam rumah maka kalian bisa menghukum mereka. Para wanita juga memiliki hak atas kalian yaitu secara halal, kalian harus memenuhi segala bentuk kebutuhan sandang dan pangan mereka."

     Khutbatul Wada' sebagai sebuah dokumen tentang hak asasi manusia, mengatur hak-hak asasi manusia yang mencakup seluruh umat manusia. Menurut Islam, semua manusia itu sama tanpa ada perbedaan bahasa, suku, warna kulit, dan jenis. Merasa lebih unggul berdasarkan bahasa, suku, warna kulit dan jenis adalah sepenuhnya bertentangan dengan islam.

     "Wahai manusia! Tuhan kalian adalah satu dan ayah kalian adalah satu. Kalian adalah anak cucu Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah. Orang Arab tidak memiliki keunggulan atas non-Arab, seperti juga non-Arab tidak memiliki keunggulan atas orang Arab. Tidak ada keunggulan orang berkulit merah atas orang berkulit hitam ataupun sebaliknya. Keunggulan hanya pada takwa, yaitu rasa takut kepada Allah Ta'ala. Orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya."


Dikutip dari tulisan Abdullah Demir berjudul Khutbatul Wada' dan HAM dalam Majalah Mata Air Edisi Januari-Februari-Maret 2014 Vol.1 No.1

Jumat, 01 Januari 2016

BUKTI-BUKTI SEJARAH MASUKNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA

Sebagaimana yang kita tahu bahwa hingga saat ini proses masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia belum diketahui secara pasti.

Namun ada beberapa sumber yang dapat digunakan untuk mendata awal masuknya Islam di Indonesia. Sumber-sumber tersebut ada yang berasal dari dalam negeri dan ada yang berasal dari luar negeri. Sumber-sumber dari dalam negeri yang menerangkan perkembangan pengaruh Islam di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

Kompleks Makam Fatimah binti Maimun
  1. Batu nisan Islam yang tertua ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur. Nisan itu milik seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun. Nisan tersebut berangka tahun 475 H atau 1802 M. Dilihat dari hiasannya, nisan tersebut dibuat di luar Indonesia. Penemuan bukti ini memunculkan pendapat bahwa masuknya Islam ke Indonesia terjadi pada abad ke-11 Masehi.

Makam Sultan Malik As Saleh
  1. Batu nisan sultan Kerajaan Samudera Pasai yang pertama, Sultan Malik As Saleh. Nisan tersebut bertarikh 696 H (1297 M).

Makam Sultan Malik Az Zahir
  1. Dua batu nisan bertarikh 781 H (1380) dan 789 H (1389 M) di Munje Tujoh, Aceh Utara. Kedua nisan ini menunjukkan tahun meninggalnya putra sultan Samudera Pasai ketiga, yaitu Sultan Malik Az Zahir.


Batu nisan yang ditemukan di pemakaman Trowulan dan Troloyo
  1. Beberapa batu nisan yang memuat kutipan dari Alquran ditemukan di kuburan Trowulan dan Troloyo, Jawa Timur. Tempat tersebut berdekatan dengan bekas istana Kerajaan Majapahit. Ciri dari batu nisan ini adalah bertuliskan huruf Arab, tetapi menggunakan tarikh Saka dan angka-angka Jawa Kuno. Nisan di Trowulan bertarikh 1920 Saka (1268-1369 M) dan beberapa nisan di Troloyo bertarikh 1293-1533 Saka (1371-1611 M). Makam ini dimungkinkan milik keluarga raja dari Kerajaan Majapahit.

Makam Maulana Malik Ibrahim
  1. Batu nisan milik Maulana Malik Ibrahim ditemukan di Gresik. Ia adalah salah seorang dari wali sanga. Nisan ini bertarikh 822 H (1419 M). Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun itu agama Islam sudah masuk di pesisir utara Jawa.








Masuk dan berkembangnya pengaruh agama dan kebudayaan Islam  di Indonesia juga diperkuat dengan beberapa sumber yang berasal dari luar negeri. Sumber-sumber tersebut di antaranya:

  1. Berita Arab
Diketahui melalui para pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan dengan bangsa Indonesia. Para pedagang Arab telah datang ke Indonesia sejak masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran dan perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka. Hubungan para pedagang Arab dengan Kerajaan Sriwijaya terbukti dengan adanya sebuah sebutan para pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya, yaitu Zabaq, Zabay, atau Sribusa.

  1. Berita Eropa
Berasal dari Marcopolo dan Tome Pires. Marcopolo adalah orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia, ketika ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalur laut. Ia mendapatkan tugas dari kaisar Cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada kaisar Romawi. Dalam perjalanannya ia singgah di Pulau Jawa bagian utara. Di daerah tersebut ia menemukan adanya kerajaan Islam yaitu Kerajaan Samudera dengan ibukotanya di Pasai. Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 daerah bagian pesisir timur Sumatra dari Aceh sampai Palembang, telah banyak masyarakat yang beragama Islam. Namun, di daerah pedalaman masyarakat setempat pada umumnya masih menganut keyakinan lama. Proses Islamisasi ke daerah pedalaman Aceh dan Sumatra Barat terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politik ke daerah pedalaman pada abad ke-16 sampai 17.

  1. Berita India
Disebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat memiliki peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Di samping berdagang mereka juga aktif mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang berada di daerah pesisir pantai.

  1. Berita Cina

Diketahui melalui catatan dari Ma-Huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Dalam tulisannya, ia menyatakan bahwa sejak sekitar tahun 1400 M telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal di pantai utara Pulau Jawa.

Kamis, 31 Desember 2015

IMAM ABU MANSUR AL-MATURIDI

Nama lengkapnya adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Ia dilahirkan di Maturid, dekat Samarkand (Asia Tengah), sekitar tahun 852 M / 238 H. Para ulama yang menjadi gurunya kebanyakan dari golongan Hanafiah yang disebut-sebut sebagai golongan rasional (cenderung mendasarkan pada rasio). Mereka antara lain: Muhammad bin Muqatil Ar-Razi, Abu Bakar Ahmad bin Ishaq Al-Jurjani, Abu Masr Al-Lyadi, dan Nusair bin Yahya.

Sedangkan para ulama yang pernah berguru kepadanya, antara lain: Abu Al-Qasim Ishak bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Al-Hakim As-Samarqandi (wafat 951 M), Abu Al-Hasan Ali bin Said Al-Rastaghtani, Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa Al-Bazdawi (wafat 999 M), dan Abu Al-Lais Al-Bukhari.

Karya tulis yang disebut-sebut sebagai karangan Al-Maturidi ada 11 buah, yaitu:
  1. Bayanul Wahm Almutazilat
  2. Raddul Usul Alkhamsah li Abi Muhammad Albahili
  3. Radd Awail Aladilat Allati
  4. Radd Tahdzib Aljadal lil Ka'bi
  5. Radd Walid Alfussaq lil Ka'bi
  6. Radd 'Ala Usulil Qaramithah
  7. Radd Kitabaat Imamat li Ba'di Arrawafid
  8. Ma'khaz Asysyara'I
  9. Kitab Aljadal
  10. Tawilat Ahlussunnah
  11. Kitab Attauhid

Dari kalangan ulama segenerasi, tampaknya hanya Al-Maturidi saja tokoh yang lebih mencurahkan perhatian pada lapangan teologi (ilmu tauhid/ketuhanan), sehingga menjelma menjadi suatu aliran. Selanjutnya aliran tersebut dikenal dengan Al-Maturidiyah. Bila dicermati dari karya-karya tulis di atas, tampak jelas bahwa Al-Maturidi secara tegas menangkis dan menyerang aliran Muktazilah dan golongan Syiah. Pada saat yang bersamaan, Imam Al-Asyari menyerang aliran Muktazilah di Irak, sedang Al-Maturidi melakukan hal yang sama di Samarkand.

Beberapa ajaran Al-Maturidi, yaitu:
  1. Tuhan itu mempunyai sifat-sifat (yang berbeda dari zat-Nya).
  2. Kalam (firman) Allah itu qadim dan tidak diciptakan (bukan makhluk).
  3. Manusia dapat melihat Tuhan kelak di akhirat.
  4. Orang-orang yang berdosa besar masih tetap berstatus mukmin, dan terserah Tuhan tentang nasibnya kelak di akhirat, apakah diampuni dan masuk surga atau harus melalui neraka terlebih dahulu.

Rabu, 30 Desember 2015

TEORI-TEORI PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA

1. Snouck Hurgronje dan Moquette


Snouck Hurgronje dan Moquette merupakan tokoh sejarah yang berasal dari Belanda. Menurut mereka, islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, India. Teori yang mereka kemukakan didasarkan pada kenyataan batu nisan yang terdapat di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, mempunyai bentuk yang sama dengan batu nisan di Cambay, Gujarat, India.




2. Soetjipto Wirjosoeparto
Soetjipto Wirjosoeparto berpendapat bahwa islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, India. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu makam raja islam di Samudera Pasai yang nisannya menggunakan batu yang berasal dari Gujarat, India.

3. Hoesein Djajadiningrat
Hoesein Djajadiningrat berpendapat bahwa islam masuk ke Indonesia melalui Iran (Persia). Teori tersebut didasarkan pada bukti dengan ejaan dalam tulisan Arab. Di mana baris di atas, di bawah, dan di depan huruf disebut dengan jabar (zabar) dan pes (pjes). Penggunaan istilah tersebut sama dengan penggunaan istilah yang berasal dari bahasa Iran, sedangkan menurut bahasa Arab, istilah tersebut disebut dengan fathah, kasrah, dan dhammah. Selain itu, terdapat pula huruf sin yang tidak bergigi, sedangkan dalam bahasa Arab huruf sin bergigi. Gelar syah yang biasa dipakai di Persia juga pernah dipergunakan oleh Raja Malaka dari Aceh.

4. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)
Hamka berpendapat bahwa islam masuk ke Indonesia melalui Mesir dan Makkah. Teori ini didasarkan pada sebagian besar rakyat Indonesia yang memeluk agama islam bermadzhab Syafii, seperti yang banyak dianut oleh masyarakat Mesir. Selain itu, gelar yang digunakan Raja Samudera Pasai adalah gelar raja-raja Mesir yaitu menggunakan Malik.

5. Alwi Shihab
Alwi Shihab berpendapat bahwa islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau sekitar abad ketujuh Masehi dibawa oleh pedagang Arab yang masuk ke Cina melalui jalur Barat. Teori tersebut didasarkan pada cerita Cina pada masa dinasti 'Tang yang menyatakan adanya perkampungan Arab di Cina. Dalam perkampungan tersebut penduduknya diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinannya. Cina yang dimaksudkan dalam berita Cina adalah gugusan pulau di Timur jauh, termasuk kepulauan Indonesia. Jadi, jalur awal penyebaran islam di Indonesia menurut Alwi Shihab bukan berasal dari jalur Arab, India dan Persia, melainkan dari Arab langsung.